Tiga Situs Arkeoastronomi Paling Terkenal di Dunia – Membahas berbagai kebudayaan yang ada di masa lampau memang cukup menarik. Arkeoastronomi adalah sebuah ilmu yang menghubungkan antara ilmu astronomi atau ilmu bintang dan ilmu sosial yang dihubungkan dengan fenomena benda langit atau berbagai benda di luar bumi lainnya. Adanya ilmu astronomi sangat mempengaruhi kebudayaan yang ada di masa lampau. Berbagai kebudayaan tersebut bisa tercipta dan terus mengalami perkembangan sesuai jamannya.
Ilmu arkeoastronomi bisa terbentuk dengan adanya hubungan antar ilmu – ilmu lain. Ilmu Astroarkeologi, Etnoastronomo dan Astronomi saling berhubungan memunculkan ilmu arkeoastronomi. Ilmu arkeoastronomi termasuk ilmu baru dimana kajian yang ada di ilmu tersebut telah dibahas oleh para peneliti sebelumnya. Apa dasar munculnya ilmu arkeoastronomi? Ilmu ini mulai muncul karena banyaknya para ahli yang tertarik untuk mengkaji monumen peradaban kuno.
Peradaban kuno yang menarik perhatian para ahli antara lain peninggalan seperti Piramida Giza, Newgrange dan Stonehenge. Peradaban kuno tersebut meninggalkan peninggalan yang cukup menarik untuk dikaji lebih detail. Semakin berkembangnya jaman membuat pengertian ilmu arkeoastronomi semakin luas. Saat ini ilmu arkeoastronomi tidak hanya mengkaji tentang monumen kuno namun mengkaji tentang budaya, kalender, politik hingga sistem navigasi yang digunakan pada jaman dulu. Ada tiga situs arkeoastronomi paling terkenal di dunia. Tiga situs tersebut hingga saat ini menjadi monumen bersejarah yang terus dijaga. Apa saja tiga situs arkeoastronomi paling terkenal di dunia? Inilah 3 situs tersebut.
1. Angkot Wat
Angkot Wat adalah sebuah monumen keagamaan Buddha terbesar yang ada di dunia. Monumen keagamaan yang terletak di Kamboja ini dulunya dibuat untuk menghormati Dewa Wisnu di dlam keagamaan Hindu. Monumen ini dibuat oleh seorang raja di kerajaan Khmer yakni Suryawarman II. Bukti monumen ini dibuat dengan memperhatikan ilmu astronomi adalah bagian Angkot Wat memiliki hubungan dengan pergerakan tata surya matahari dan bulan.
Struktur pembuatan Angkot Wat ini mencerminkan data terkait penanggalan yang ada di kepercayaan Hindu. Selain itu bagian Angkot Wat juga mengandung data – data historis dan mitologis yang bisa dilihat dari ukuran struktur relief yang ada di monumen tersebut. Penerapan ilmu astronomi bisa dilihat dibeberapa bagian Angkot Wat yang mengandung fenomena benda langit.
Bukti ilmu astronomi paling menarik di monumen ini adalah saat matahari berada di titik balik, posisinya akan segaris lurus dengan pintu masuk Angkot Wat. Hal ini menunjukan bahwa di jaman dulu pembangunan Angkot Wat menggunakan ilmu astronomi. Selain itu dibeberapa bagian Angkot Wat juga bisa digunakan untuk mengamati pergerakan bulan.
2. Candi Borobudur
Salah satu monumen bersejarah yang terletak di Magelang Jawa Tengah ini memang menyita perhatian dunia. Candi Borobudur merupakan kuil umat Budhha paling besar yang ada di dunia. Candi ini dibuat pada jaman Syailendra dimana candi ini menggunakan gaya perpaduan antara Jawa dan Buddha. Candi Borobudur memiliki 9 tingkatan dimana 6 tingkatan berbentuk bujur dan 3 tingkatan berbentuk lingkaran. Untuk bagian atas candi dibuat seperti kubah.
Setelah kajian arkeoastronomi dilakukan secara detail disimpulkan bahwa bentuk Candi Borobudur ini ada keterkaitannya dengan benda langit. Peletakan Candi Borobudur ini juga tidak dilakukan sembarangan. Setelah melalui perhitungan secara modern di dapatkan jawaban bahwa Candi Borobudur ini memiliki garis lurus dengan Gunung Merapi. Gunung Merapi ini terletak tidak jauh masih dalam satu kawasan Jawa Tengah. Hal ini semakin menguatkan dugaan bahwa pembangunan Candi Borobudur mengikuti pergerakan matahari. Ada beberapa ahli yang mengeklaim bahwa jarak antar stupa dan struktur yang ada pada candi sangat berkaitan dengan sistem penanggalan kuno.
3. Stonehenge
Stonehenge adalah sebuah monumen neolitikum yang dijadikan icon kebudayaan bersejarah yang ada di Inggris. Tujuan dan fungsi dari pembangunan monumen Stonehenge masih menjadi perdebatan karena pada masa pembangunan tersebut masyarakat belum mengenal tulisan. Melalui kajian Stonehenge, para ahli menyimpulkan bahwa pembangunan Stonehenge dilakukan secara bertahap. Membutuhkan kurang lebih 1000 tahun lamanya untuk menyelesaikan pembangunan tersebut.
Sebuah literatur menjelaskan bahwa monumen Stonehenge dijadikan sebagai tempat pemujaan para pendeta di jaman dulu yang dikenal dengan sebutan Druid. Namun Druid ini diyakini bukan pembangun monumen tersebut, mereka hanya dianggap sebagai penjaga dan menggunakan monumen tersebut sesuai keperluan. Berbagai penilitian mengungkap bahwa situs Stonehenge dianggap sebagai observatorium kuno yang digunakan untuk mengamati pergerakan bulan, matahari dan juga bintang.
Hal paling unik dari monumen Stonehenge adalah saat matahari berada di titik balik, sinar matahari akan membelah tengah – tengah jalan masuk Stonehenge. Selain ada kaitannya dengan matahari, beberapa bagian dari bangunan Stonehenge juga ada kaitannya dengan sudut inklinasi bulan. Berbagai perbandingan sudut inklinasi tersebut bisa dibentuk dari berbagai bagian dari monument Stonehenge.
Tiga situs arkeoastronomi di atas memang sangat menarik perhatian dunia. Tidak hanya menarik para peneliti untuk mengkaji lebih detail. Tiga situs tersebut saat ini mampu menjadi monumen bersejarah dimana diantaranya dijadikan sebagai objek wisata yang menarik para wisatawan berbagai daerah untuk datang berkunjung. Setiap negara di dunia memiliki peninggalan bersejarahnya masing – masing sebagai monumen yang dilindungi. Kesimpulan dari situs arkeoastronomi tersebut adalah kebudayaan yang ada di jaman dahulu telah mengenal ilmu astronomi sebagai cara untuk melakukan kegiatan sosial sehari – hari. Masyarakat bisa mengenal waktu, sistem navigasi, musim dan berbagai hal lainnya dengan memanfaatkan ilmu astronomi.